- Penguatan Teaching Factory (TeFa) — SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru terus mengembangkan pembelajaran berbasis produk melalui penyusunan perangkat ajar dan penerapan tujuh langkah utama Teaching Factory.
- Penerapan SOP dalam pembelajaran — Peserta didik diperkenalkan pada pentingnya SOP, termasuk penerapan FIFO dalam pengelolaan bahan produksi untuk menjaga kualitas, efisiensi, dan ketertiban proses kerja.
- Membentuk lulusan profesional — Pembelajaran Teaching Factory tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga melatih disiplin, ketelitian, tanggung jawab, kejujuran, dan kerja sama agar siswa lebih siap menghadapi dunia kerja.
Pekanbaru, 17 September 2026 — SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru terus memperkuat pelaksanaan Teaching Factory (TeFa) sebagai bagian dari pengembangan sekolah model. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Workshop Merancang Pembelajaran dan Asesmen Berbasis Teaching Factory yang dilaksanakan pada Kamis, 17 September 2026.
Kegiatan ini berfokus pada penyusunan perangkat ajar Teaching Factory agar pembelajaran di sekolah semakin terarah dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran berbasis produk.
Workshop menghadirkan Bapak Irwan Hasibuan dari BBPPMPV BBL Medan. Irwan menuturkan, “Perencanaan pembelajaran Teaching Factory harus berpedoman pada tujuh langkah utama.”
Ketujuh langkah tersebut meliputi identifikasi produk, analisis kompetensi, perancangan produk, analisis sumber daya, pengerjaan produk, penyerahan produk, serta layanan purna jual. Ketujuh tahapan ini menjadi dasar penting dalam merancang pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik.
Selain membahas capaian pembelajaran, peserta juga mendapatkan materi tentang penyusunan Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), dan rencana pembelajaran.
Penguatan SOP dalam Pembelajaran TeFa
Materi berikutnya disampaikan oleh tim Babada Corporation, yaitu Ridha Arsyika, Head of Babada Entrepreneur Institute, dan Indah Subarjo, Head of Administration. Dalam pemaparannya, narasumber menekankan pentingnya Standard Operating Procedure (SOP) dalam pelaksanaan Teaching Factory.
Ridha menuturkan, “SOP tidak hanya menjadi dokumen tertulis, tetapi harus benar-benar diterapkan dalam kegiatan operasional di lapangan.”
Khusus pada bidang Food and Beverage (F&B), SOP sangat diperlukan untuk menjaga kualitas produk. Salah satu hal penting yang diperkenalkan kepada peserta didik adalah penerapan FIFO (First In, First Out) dalam pengelolaan bahan produksi.
Penerapan FIFO bertujuan agar bahan yang lebih dahulu masuk digunakan lebih dahulu. Dengan cara ini, sekolah dapat mengurangi bahan yang terbuang, mencegah stok lama menumpuk, menjaga bahan tetap segar, mengurangi risiko kedaluwarsa, serta membantu pengelolaan persediaan secara lebih efisien.
Dalam praktik pembelajaran Kuliner, peserta juga mendapatkan contoh mengenai perbedaan tepung muda dan tepung tua yang berkaitan dengan proses produksi dan penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP). Materi seperti ini memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
Membentuk Sikap Profesional Siswa
Penerapan SOP dalam Teaching Factory tidak hanya bertujuan menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga membentuk sikap profesional peserta didik. Melalui SOP, siswa dilatih untuk memiliki disiplin dalam mengikuti prosedur, teliti dalam setiap tahapan pekerjaan, bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, jujur dalam melaporkan kondisi sebenarnya, serta mampu bekerja sama dengan anggota tim.
Melalui workshop ini, SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru terus berupaya menjadikan Teaching Factory sebagai pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman kerja nyata kepada peserta didik.
Dengan pembelajaran berbasis produk, penerapan SOP, serta penguatan keterampilan dan sikap profesional, diharapkan peserta didik SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru semakin siap menghadapi tuntutan dunia kerja dan berkembang menjadi lulusan yang kompeten serta berdaya saing.
